Minggu, 22 September 2019

Pengalaman Berbahasa serta menganalisisnya denga teori sosiolinguistik


Pengalaman Berbahasa
Assalamu’alaikum Wr Wb
Sebelum memulai tulisan ini, saya akan memperkenalkan nama saya  dan latar belakang keluarga saya terlebih dahulu, hal itu sangatlah penting karena akan berhubungan dengan isi tulisan ini. Saya akan membahas pengalaman berbahasa yang pernah saya alami selama ini, serta saya akan mencoba menganalisisnya dengan menggunakan teori sosiolinguistik.
Nama saya “Raden Norhayati”. Sesuai dengan data yang tertera di akte kelahiranku, saya dilahirkan pada tanggal 2 Maret 1996 di Desa Balai Karangan Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Saya dilahirkan dari sepasang suami istri Raden syafaruddin dan Dayang Intan. Nama “Raden” saya dapatkan dari ayah, walaupun ayah kelahiran Balai Batang Tarang, tetapi ayah masih merupakan keturunan Keraton Pakunegara Tayan, meski hingga saat ini saya sendiri masih kurang faham dengan silsilah yang ayah miliki hingga sampai pada kerabat-kerabat Keraton Pakunegara Tayan. Sedangkan ibuku juga merupakan keturunan keraton Surya Negara Sanggau. Nama “Dayang” yang ada pada nama ibu merupakan gelar untuk anak perempuan dari seorang ayah yang bergelar “Abang”, sehingga untuk anak perempuan akan diberi gelar “Dayang” jika ia seorang laki-laki maka akan diberi gelar “Abang”.
Saya merupakan orang suku melayu dan sejak kecil saya berkomunikasi dengan anggota keluargaku, teman-teman bermainku, dan masyarakat di kampungku menggunakan Bahasa Melayu Balai Karangan. Loh, mengapa lalu ada nama Balai Karangan ? Padahal ayah berasal dari Balai Batang Tarang dan ibuku berasal dari Desa Mengkiang. Singkat cerita, ayah dari semasa bujangnya ia merantau ke negeri Malaysia, tepatnya di Sarawak untuk berkerja, jika ayah pulang ke indonesia (ke kampung) maka ayah akan singgah dulu ke Balai Karangan. Hal ini disebabkan oleh dua alasan, pertama karena jarak antara Sarawak dengan Balai Karangan sekitar 68 Km dan yang kedua karena ayah selalu datang, bahkan menginap di rumah pamannya yang ada di Balai Karangan. Begitu juga dengan ibu yang merantau ke Desa Balai Karangan sejak gadis. Sehingga Allah mempertemukan ayah dan Ibu menjadi sepasang suami istri pada tahun 1989. Ayah dan ibu juga memutuskan untuk tinggal menetap di Desa Balai Karangan agar ayah dekat dengan tempat ayah mencari nafkah, yaitu di Sarawak, Malaysia. Sehingga saya serta seluruh saudaraku semua dilahirkan dan dibesarkan di Desa Balai Karangan.
Sejak masuk sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama saya bersekolah di Balai Karangan. Sehingga saya terbiasa dengan dialek bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat di rumah saya berkomunikasi dengan keluargaku menggunakan bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat saya berkomunikasi dengan teman bermainku. Walaupun di Sekolah saat kegiatan belajar mengajar di kelas, kami tetap diajarkan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh para guru-guruku.
Hingga saat saya memasuki masa SMA, saya bersekolah di ibu kota kabupatenku, yaitu Sanggau. Saat  berada di Sanggau bahasa yang saya gunakan tidaklah banyak berbeda dengan di dessaya dahulu, Bahasa Melayu Sanggau dan Bahasa Melayu Balai Karangan tidaklah jauh berbeda hanya terletak perbedaan pada penekanan kata dan logatnya saja, mungkin karena jarak antara Desa Balai Karangan dengan Sanggau tidak terlalu jauh hanya sekitar 108 Km. Sehingga saya tidak terlalu sulit saat beradaptasi khuhusnya masalah komunikasi dengan teman saat bersekolah di Sanggau.
Namun hal ini sangat berbeda saat saya memasuki perguruan tinggi. saya melanjutkan pendidikan saya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, saya mengambil konsentrasi jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Kampusku yang berada di Kota Pontianak, jaraknya cukup jauh antara Desa Balai Karangan dengan Kota Pontianak sekitar 218 Km, dua kali lipat jarak  dari desa Balai Karangan ke ibu kota kabupatenku. Jarak yang lumayan jauh itu juga berimbas dengan bahasa yang saya gunakan sehari-hari, karena saya banyak bertemu dengan orang asing di sini, sudah tentu bahasanya juga ada beberapa yang asing terdengar oleh telingaku. Terlebih saat saya bertemu dengan orang asli kota Pontianak, logat dan bahasa mereka sangat mirip sekali dengan bahasa melayu Malaysia atau yang sering terdengar di serial animasi Ipin Dan Upin. Padahal jika diukur dengan jarak, maka jarak antara desaku Balai Karangan ke Malaysia lebih dekat dibanding jarak Pontianak ke Malaysia. Akan tetapi bahasa yang digunakan oleh orang asli Pontianak cenderung terdengar seperti bahasa melayu malaysia.
Sebenarnya ada banyak kata yang sempat membuat saya bingung dalam berbahasa dikarenakan perbedaan arti antara bahasa yang ku fahami dan bahasa Melayu Pontianak. Akan tetapi saya hanya menjabarkan sebagian saja, seperti pada beberapa kejadian yang pernah saya alami, yaituu kesalahfahaman hanya dikarenakan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara berbeda makna akan tetapi sama bunyinya sehingga tidak dapat saya fahami, seperti beberapa kata berikut:
1.      Kata “semalam”, dari kata itu yang dapat saya fahami adalah “malam kemarin; malam sebelum hari ini; malam tadi”, itu juga sesuai dengan yang saya fahami selama saya belajar Bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekarang ini. Akan tetapi, masyarakat asli Kota Pontianak mengartikan kata “semalam” dengan arti “Kemaren”. Tentu saja itu berbeda dengan apa yang telah saya pelajari sehingga saya pun salah mengartikan pertanyaan teman kelasku, saat ia bertanya kepadaku,
Teman: “Den, kenape semalam kakak cari raden di Kampus, kok raden tadak ade ?”
Tentu saja saya akan menjawab, “kak, ngapain raden ke kampus malam-malam ?, kan kita kuliah siang, ngapain ke Kampusnya malam ? pastilah raden dah pulang ke Rumah kalo udah malam”.
Anehnya lagi, temanku langsung menepuk jidatnya, dengan seraya berkata teman: “kemaren bah den !!!!!, masak itu pon tak faham ?”
Saya pun bingung sekali, dan berfikir. Apakah saya yang salah ?
Saya: ???????  gimana sih, kakak nyari raden tu semalam apa kemaren ?
Semalam, ya semalam. Kemeren, ya kemaren lah kak. Kok jadi sama antara “semalam” dan “kemaren”?”
2.      Ada lagi kata yang sangat berbeda artinya menurutku jika dibandingkan dengan Bahasa Indonesia yang sebenarnya. Kata itu adalah kata “Turun”, “turun” berarti bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula, setidaknya itulah arti kata yang  saya dapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akan tetapi lagi-lagi masyarakat asli Kota Pontianak mengartikan kata “Turun” dengan arti “Berangkat”.  Menurutku dua arti tadi itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda sehingga saya pun tidak tahu apa arti yang difahami oleh masyarakat asli Kota Pontianak dengan kata “turun” itu. Hal ini juga menjadikan kesalahfahaman antara saya dan temanku, kejadian itu terjadi saat temanku bertanya kepadaku lewat pesan singkat,  ia bertanya apakah saya sudah berangkat dari rumah kontrakan ke kampus, akan tetapi ia malah bertanya seperti ini:
Teman: “den, dah turun ke ?”
Saya: “hah ?? turun dari mana ? ke mana ?
Teman: “turun ke kampus lah den !!!”
Saya: “Oooooo, belum, saya belum berangkat nih, mungkin sebentar lagi lah. Soalnya lagi sarapan.”
3.      Dalam bahasa Indonesia saya mengenal istilah untuk orang yang suka bertingkah laku berlebihan atau orang yang suka bertingkah laku aneh sehingga mengundang orang lain untuk melihat dan memandangnya adalah “orang yang banyak gaya”. Akan tetapi, masyarakat asli Kota Pontianak menyebutnya dengan “jawak”. Sehingga saat masyarakat asli Kota Pontianak melihat orang yang banyak gaya, mereka akan menyebutnya dengan sebutan “jawak”, saya mengira “jawak” artinya adalah orang suku jawa ternyata artinya sangat jauh dari itu. Sebelumnya saya tidak tahu arti “jawak” sesungguhnya, hingga sampai pada suatu saat saya bertemu dengan temanku di kelas, teman kelasku mengomentari seseorang yang dia lihat, orang yang dia lihat itu terlihat banyak gaya dan tingkah lakunya aneh sekali.
Teman: “iiiii, ngape lah die tu...? jawak benar....”
Saya: “haah ? dia orang jawa ya ?”
Teman: “bukanlah, die tu jawak, bukan orang jawa” isshh, kau ni tak faham
Saya: ?????
Hingga sampai saat ini, walaupun sudah terhitung kurang lebih 4 tahun saya kuliah di Pontianak akan tetapi saya masih tidak terbiasa menggunakan Bahasa Melayu Pontianak, karena saya pikir itu sangat tidak cocok denganku, jika saya berkomunikasi dengan Bahasa Melayu Pontianak maka akan terdengar sangat aneh sekali, baik dari segi logat dan gaya bahasanya yang belum terlalu saya fahami. Saya malu jika harus berbicara dengan Bahasa Melayu Pontianak, apa lagi jika lawan bicarsaya adalah masyarakat asli Kota Pontianak, mungkin mereka akan mentertawaiku dengan mendengar logat bicaraku dengan menggunakan bahasa Melayu Pontianak yang tidak kawuran.
Selain antara  beberapa kata dari bahasa melayu Pontianak dan bahasa melayu Balai Karangan yang mengalami perbedaan dari segi makna walaupun memiliki bunyi dan penulisan yang sama. Saya juga menemukan perbedaaan yang lain antara bahasa melayu balai karangan dan Bahasa Indonesia yang baku. Perbedaan itu terdapat pada kata “Tamak”. Menurut kamus KBBI, kata tamak memiliki arti selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba; serakah
contoh: 'ia tamak akan harta'
. Akan tetapi di dalam bahasa melayu Balai Karangan kata “Tamak” memiliki arti masuk, masuk ke dalam rumah. Perbedaan makna yang sangat jauh itu tentu saja akan menimbulkan kesalahfaham antara dua orang yang sukunya berbeda pula. Jika ada orang yang bukan suku melayu Balai Karangan, serta tidak faham dengan bahasa melayu Balai Karangan, dia hanya faham dengan bahasa Indonesia. Anggap saja orang itu suku jawa, jika ia bertemu dan bertamu ke rumah orang suku melayu Balai Karangan maka akan terjadi kejadian yang kurang lebih seperti ini,
Suku Jawa       : Assalamu’alaikum
Suku Balai       : Wa’alaikumsalam, baru datang ya pak ? silahkan pak, tamaklah !
Suku Jawa       : iya pak, (bebicara di dalam hati: kok aku dikatain orang yang tamak sih, padahal baru saja aku nyampe)

ANALISIS PENGALAMAN BERBAHASA
Sesuai dengan pengalaman bahasa yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis mencoba menganalisis pengalaman berbahasa tersebut dengan ilmu sosiolinguistik yang penulis fahami.
Menurut Tangson. R. Pangaribuan di dalam tulisannya, saat kita mempelajari sosiolinguistik berarti kita mempelajari bahasa dalam konteks sosio-kultural serta hubungan penutur dengan pendengarnnya. Kelompok sosial mengacu pada perbedaan penduduk atau kelompok dalam kelas-kelas kekuasaan, pendapatan, kedudukan, dan jenis pekerjaan. Melalui kajian sosiolinguistik kita dapat mengetahui variasi bahasa sekaligus kelompok-kelompok/kelas-kelas sosial suatu masyarakat.
Pada pengalaman berbahasa tersebut penulis cenderung menceritakan tentang kebingungannya tentang bahasa yang ia temui saat ia berada di kota Pontianak, karena masa kecil penulis bukan di kota Pontianak serta bahasa sehari-hari penulis juga bukan bahasa melayu Pontianak maka sewajarnya jika penulis banyak bingung dengan bahasa melayu Pontianak tersebut, ternyata tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan atau yang lebih dikenal dengan lingkungan berbahasa itu sangat memberi pengaruh terhadap bahasanya seseorang. Jadi setiap tempat mempunyai bahasa mereka tersendiri dan terdapat banyak perbedaan dengan daerah lainnya juga. Hal ini disebabkan bahasa sebagai objek kajian linguistik memiliki sifat arbitrer (mana suka), setiap daerah mempunyai kesepakatan bahasa yang berbeda dengan daerah yang lain. Perbedaan bahasa tersebut menunjukan bahwa bahasa itu unik karena dengan bahasa yang berbeda tersebut seseorang dapat dikenali suku dan budayanya, karena bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol dan dengan bahasa suatu kelompok dapat mengidentifikasikan dirinya. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1985:3) mengatakan bahwa, “sosiologi bahasa membidangi faktor-faktor sosial dalam skala besar yang saling bertimbal-balik dengan bahasa dan dialek-dialek.
Dari beberapa pengalaman berbahasa itu juga menyiratkan bahwa ada hubungannya dengan ilmu semantik, yaitu relasi bentuk dan makna. Ada sebuah kata yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi memiliki makna yang berbeda. Hal itu terjadi pada kata: (1) Semalam, (2) Turun, (3) Banyak gaya. Kata-kata tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu pontianak yang telah penulis paparkan di atas. Tentu masih banyak kata-kata dalam bahasa daerah yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi memiliki arti yang berbeda.
Salah satu faktor yang menyebabkan munculnya variasi bahasa dalam sosioliungistik adalah faktor tempat. Tempat berbahasa yang berbeda akan berpengaruh pada perbedaan pilihan kata yang digunakan. Pilihan kata ada kecendrungannya bahwa pendidikan pemakai bahasa mempengaruhi tingkat kesukaran dan keunikan kata yang digunakan. Bahasa yang digunakan oleh kelompok tertentu berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lain.

Daftar Pustaka
Al wasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa
Tangson. R. Pangaribuan. Hubungan Variasi Bahasa Dengan Kelompok Sosial Dan Pemakaian Bahasa. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

2 komentar:

  1. Ga kebayang dengan banyaknya suku dan dialek bahasa yang ada di Indonesia. Bersyukur, semua bisa disatukan dengan 1 bahasa.. sehingga bisa saling memahami.

    Kekayaan budaya yang wajib kita syukuri.

    BalasHapus