MAKALAH
Mata Kuliah : Linguistik
Dosen pengampu: Dr. Yusriadi
Asisten Dosen: Farninda Aditya
Nama : Raden
Norhayati
NIM : 113110006
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
2019
DAFTAR ISI
Daftar Isi.......................................................................................................... i
BAB I Pendahuluan........................................................................................ 1
BAB II Pembahasan........................................................................................ 3
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Morfologi................................................. 3
B. Objek morfologi.......................................................................................... 4
C. Proses Morfologi......................................................................................... 6
D. Macam dan Bentuk Morfologi Bahasa Indonesia...................................... 8
BAB III Penutup............................................................................................ 12
Daftar Pustaka................................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem, tentu saja bahasa bersifat sistemis atau mempunyai
atauran-aturan yang khas. Lebih jelasnya, bahasa merupakan fenomena yang
memadukan bagian makna dan bagian bunyi mempunyai 3 subsistem, yaitu subsistem
fonologis, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal.
Morfologi atau tata bentuk adalah bidang linguistik yang
mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Sedangkan proses
morfologis adalah suatu proses yang mengubah leksem atau satuan leksikal
menjadi kata. Dalam proses pembentukan kata ada tiga komponen yang sangat erat berkaitan,
yaitu leksem (input), morfem dan kata (output). Dengan kata lain proses
pembentukan kata itu bisa terjadi pula proses pembentukan morfem atau satuan
terkecil kata. Seluk-beluk struktur kata serta pengaruh perubahanperubahan struktur
kata terhadap golongan dan arti atau makna kata itulah yang dipelajari oleh
bidang morfologi.
Sebagai
contoh pada kata ”makanan”, “dimakan”, dan “termakan” masing-masing terdiri
atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter- dengan makan. Kata makan-makan
terdiri atas dua bentuk bermakna makan dan makan. Rumah makan pun terdiri atas
dua bentuk bermakan rumah dan makan. Berdasarkan contoh di atas, kita dapat
mengetahui bahwa bentuk-bentuk tersebut dapat berubah karena terjadi suatu
proses.
Kata
makan dapat berubah menjadi makanan, dimakan, termakankarena masing-masing
adanya penambahanan, di, dan terdapat pula menjadi makan-makan karena adanya
pengulangan, dapat pula menjadi rumah makan karena penggabungan dengan rumah.
Perubahan bentuk atau struktur kata tersebut dapat pula diikuti oleh perubahan
jenis atau makna kata. Kata makan termasuk jenis atau golongan kata kerja
sedangkan makanan termasuk jenis atau golongan kata benda. Dari segi makna kata
makan maknanya ‘memasukan sesuatu melalui mulut’, sedangkan makanan maknanya
‘semua benda yang dapat dimakan’. Seluk-beluk struktur kata serta pengaruh
perubahan-perubahan struktur kata terhadap golongan dan arti atau makna kata
seperti contoh di atas itulah yang dipelajari oleh bidang morfologi yang akan
dibahas dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan
Ruang Lingkup Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf berarti
“Bentuk” dan Logi berarti “Ilmu”. Secara harfiah kata morfologi berarti ilmu
mengenai bentuk. Sehingga di dalam kajian bidang ilmu linguistik, menurut Abdul
Chaer (2008:3) morfologi berarti “ilmu mengenai bentuk-bertuk dan pembentukan
kata”. Sedangkan menurut Lisna Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk,
bentuk kata dan perubahan bentuk kata, serta makna yang muncul akibat
perubahan-perubahan bentuk kata. Menurut Verhaar (2008: 97) Ilmu morfologi
menyangkut struktur “internal” kata.
Cabang morfologi mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai
satuan gramatikal. Sebagai contoh pada kata berhak terdiri atas dua
satuan minimal, yaitu ber- dan hak; satuan minimal gramatikal itu
dinamakan “morfem”. Dalam morfologi hal yang diamati adalah kata itu sendiri
sebagai satuan yang dianalisis sebagai morfem satu atau lebih. Pada sumber lain
menyebutkan bahawa Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari
seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik
fungsi gramatik maupun semantik (Henri, 2009:4).
Adapun morfologi bahasa Arab (Sharf) adalah ilmu
tentang asal-usul kata dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dari kata-kata
bahasa Arab dan keadaannya, yang bukan ‘irab dan bukan bina,
yaitu ilmu yang membahas tentang berbagai kata dari sisi tasrif, i’lal,
idgam, dan penggantian huruf. Ruang lingkup pembahasan morfologi bahasa
Arab adalah sebagai berikut:
1. Isim yang mutamakkin (yang dapat dii’rab),
2. Fi’il yang dapat ditasrif, yang keduanya dalam keadaan
sendirian (terpisah dari rangkaian kalimat).
Maka morfologi bahasa Arab tidak membicarakan Isim-isim
mabni, fi’il-fi’il jamid (fi’il yang tidak bisa ditasrif),
dan huruf-huruf. Komponen kata dalam bahasa Arab ada tiga pembagian,
yaitu isim, fi’il, dan huruf.
B. Objek Morfologi
Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi,
proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Satuan
morfologi adalah:
1. Morfem
Menurut Abdul Chaer (2003: 146) sebagai satuan
fungsional, morfem ini merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai
makna. Morfem ini dapat berupa akar (dasar) dan dapat pula berupa afiks. Akar
menjadi dasar dalam pembentukan kata, sedangkan afiks tidak; akar memiliki
makna leksikal (makna apa adanya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra
manusia); sedangkan afiks hanya “menjadi” penyebab terjadinya makna gramatikal
(makna yang terbentuk dari proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi,
komposisi dan sebagainya). Morfem terdiri dari beberapa macam:
a. Morfem bebas dan terikat
Morfem bebas menurut Verhaar (2008: 97) adalah
bentuk yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak membutuhkan bentuk lain yang
digabung dengannya, dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk bebas lainnya di
depannya dan di belakangnya, dalam tuturan. Sedangkan morfem terikat adalah
morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan yang hanya dapat meleburkan diri
pada morfem yang lain.
Menurut Abdul Chaer (2003: 152) morfem bebas
adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam petuturan.
Dalam bahasa Indonesia, misalnya pulang, makan, rumah, dan
bagus. Morfem tersebut dapat digunakan tanpa penggabungan dengan morfem
yang lain. Sebaliknya, morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabungan dulu
dengan morfem lain tidak dapat muncil dalam petuturan.
b. Morfem dasar dan jenisnya
Morfem dasar adalah morfem yang dileburi morfem
yang lain berupa imbuhan atau klitika atau bentuk dasar yang lain (dalam
permajemukan) atau yang sama (dalam reduplikasi). Morfem dasar ada tiga macam:
1) Morfem pangkal adalah morfem dasar yang bebas;
contohnya hak dalam berhak.
2) Morfem akar adalah morfem dasar yang berbentuk
terikat. Agar menjadi bentuk bebas, akan harus mengalami pengimbuhan.
3) Pradasar adalah bentuk yang membutuhkan
pengimbuhan dan pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentuk bebas.
Misalnya, morfem ajar berupa pradasar. Morfem tersebut dapat menjadi
bebas melalui pengimbuhan, seperti mengajar, belajar, dan
sebagainya. Serta dapat juga melalui pengklitikan seperti kami ajar, saya
ajar, dan dengan yang serupa. Dapat juga dengan pemajemukan, seperti kurang
ajar.
c. Morfem Utuh Dan Morfem Terbagi
Menurut Abdul Chaer (2003: 153) Semua morfem dasar
bebas adalah termasuk morfem utuh seperti meja, kursi, kecil,
laut dan pensil. Begitu juga morfem terikat, seperti ter, ber,
henti, dan juang. Sedangkan morfem
terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.
Seperti dalam bahasa Indonesia kita menngenal ke-/-an, per-/-an
dan sebagainya.
d. Morfem Segmental Dan Morfem Nonsegmental
Menurut Verhaar (2008: 101) morfem segmental
adalah morfem yang dapat diidentifikasi sebagai satuan pada “garis” dari kiri
ke kanan. Menurut Abdul Chaer (2003: 156) morfem segmental adalah morfem yang
dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem lihat, lah, sikat, ber.
Sehingga semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan
morfem nonsegmental adalah morfem yang terbentuk oleh unsur-unsur non
segmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.
e. Morfem beralomorf Zero
Menurut Abdul Chaer (2003: 150) morf adalah
nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya, alomorf adalah
nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya. Alomorf
adalah bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama. Alomorf
adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Setiap
morfem tentu mempunyai alomorf sebanyak satu, dua atau enam buah. Selain itu
juga bisa dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk
sebuah bentuk yang sama.
2. Kata
Kata adalah satuan gramatikal yang terjadi sebagai
hasil dan proses morfologi. Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan
terbesar dan dalam tataran sintaksis merupakan satuan terkecil. Secara berdiri
sendiri setiap kata memiliki makna leksikal dan dalam kedudukannya dalam satu
ujaran memiliki makna gramatikal. Dengan kata lain, secara struktural objeknya
adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
C. Proses Morfologi
Proses morfologi adalah cara pembentukan kata-kata dengan
menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Jadi kata adalah bentuk
minimal yang bebas; bebas di sini berarti bahwa bentuk itu dapat diucapkan
tersendiri, dapat didahului dan diikuti oleh jeda yang potensial. Dengan begitu
terbukti bahwa bentuk terkecil adalah morfem, sedangkan yang terbesar adalah
kata. Adapun komponen yang terlibat dalam proses morfologi adalah sebagai
berikut:
1. Bentuk dasar adalah bentuk yang kepadanya
dilakukan proses morfologi itu. Contoh bentuk dasar: meja, kursi, tulis, baca
2. Alat pembentukan kata dalam proses morfologi
adalah (a) afiks dalam proses afiksasi (b) pengulangan dalam proses reduplikasi
(c) penggabungan dalam proses komposisi (d) penyingkatan dalam proses
akronimisasi (e) pengubahan status dalam proses konversi.
Proses morfologi ini dapat melalui beberapa cara,
yaitu:
1. Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar
atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk
dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan (Abdul Chaer, 2003:
177). Menurut posisinya afiks ini dapat dibedakan atas jenis, yaitu:
a.
Prefiks (awalan)
Prefiks atau awalan adalah bentuk terikat yang dibubuhkan di
awal dasar kata, seperti me- pada kata menghibur, me- pada kata
mencuci. Prefiks dapat muncul atau dapat digabungkan dengan afiks yang lain.
b.
Infiks atau sisipan adalah bentuk terikat yang dibutuhkan
atau lebih tepat disisipkan di tengah kata dasar. Misalkan dalam bahasa
Indonesia mengenal adanya infiks -el- dalam kata tunjuk menjadi telunjuk.
Serta contoh yang lain gigi+er = gerigi, patuk+ el = pelatuk, sidik + el =
selidik.
c.
Sufiks adalah afiks yang yang ada pada bagian kanan bentuk
dasar atau pada akhir bentuk dasar. Contoh –an pada kata makan
menjadi makanan. Kata makan pada awalnya merupakan
kata kerja berubah menjadi kata benda setelah mendapat imbuhan –an.
d. Konfiks adalah efiks yang berupa morfem terbagi.
Afiks tersebut dibubuhkan pada awal dan akhir bentuk dasar yang merupakan satu
kesatuan. Contoh ke-dan-an pada kata keterampilan.
e. Transfiks adalah wujud vokal-vokal yang diimbuhkan
pada keseluruhan dasar. Transfiks dapat dijumpai pada bahasa arab, yang
biasanya berupa konsonan, biasanya tiga konsonan seperti k-t-b (menulis)
dan d-r-s (belajar)
Contoh dalam bahasa Arab:
|
Ia (laki-laki) menulis
|
كَتَبَ
|
|
Ia (perempuan) menulis
|
كَتَبَتْ
|
|
Engkau (laki-laki) menulis
|
كَتَبْتَ
|
|
Engkau (perempuan) menulis
|
كَتَبْتِ
|
|
Aku menulis
|
كَتَبْتُ
|
|
Tempat untuk menulis (meja)
|
مَكْتَبٌ
|
|
Perustakaan
|
مَكْتَبَةٌ
|
2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk
dasar baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dalam
perubahan bunyi. Contoh reduplikasi penuh, seperti: ancaman-ancaman, buku-buku,
dan sebagainya. Reduplikasi dengan modifikasi, seperti: mondar-mandir,
bolak-balik, dan sebagainya. Dapat pula pengulangan sebagian saja, seperti:
pepohonan.
3. Akronimisasi
Akronimisasi adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem
atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tanpa merubah makna
asalnya atau makna bentuk utuh sebelum terjadinya proses pemendekkan.
4.
Komposisi
Komposisi adalah proses penggabungan dua buah morfem dasar
dengan morfem dasar, baik morfem bebas maupun morfem terikat yang kemudian
menghasilkan sebuah kata yang baru yang memiliki makna baru atau makna yang
berbeda. Contoh daya tahan, daya juang,
ruang baca, ruang tunggu, lamba lari, simpan pinjam.
5.
Konversi
Konversi
adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar bekategori tertentu menjadi
berkategori lain, tanpa merubah bentuk fisik dari dasar itu. Sebagai contoh,
kata cangkul dalam kalimat pertama berkategori nomina dan kata cangkul
dalam kalimat yang kedua berkategori verba.
a.
Ayah membawa cangkul ke sawah
b.
Cangkul dulu tanahnya !
D. Macam dan Bentuk
Morfologi Bahasa Indonesia
Kata dalam bahasa Indonesia berdasarkan struktur morfologisnya terbagi
menjadi beberapa jenis kata, yaitu:
1. Morfologi Kata benda (nomina substantive)
Menurut Guntur Tarigan, morfologi kata benda adalah segala
pembentukan kata yang menghasilkan kata benda. Dalam pembentukan kata benda
berdasarkan jenis kata dasarnya, terbagi menjadi lima macam, yaitu:
|
No
|
Jenis Kata Dasar
|
|
1
|
Kata benda Adalah kata benda yang tidak digabungkan dengan afiks
manapun. Seperti: bumi, langit, kaki, wajah, mulut, kakak, dan sebagainya. Adapun
hasil kata benda yang telah digabungkan dengan afiks, adalah Perasa (Pe- ), Kemanusiaan (Ke- dan -an)
|
|
2
|
Kata kerja
Contoh:
a. Pemetik (pe-)
b. Penulis (Pen-)
c. Minuman (-an)
d. Persembunyian (Pe-
dan -an)
|
|
3
|
Kata keadaan
Contoh:
a. Ketua (ke-)
b. Penenang (pen-)
c. Kebaikan (ke-
dan -an)
|
|
4
|
Kata bilangan
Contoh:
Persatuan
(pe- dan -an)
|
|
5
|
Kata ganti orang
Contoh:
Pengakuan (pe- dan an-)
|
2. Morfologi Kata kerja (verba)
Kata kerja adalah kata yang dapat dipakai sebagai
perintah, baik dapat digabungkan dengan afiks maupun tidak. Seperti: petik,
lempar, buang, dan lain-lain. Dalam pembentukan kata kerja berdasarkan jenis
kata dasarnya, terbagi menjadi lima bentuk, yaitu:
c. Kata benda
Yang dimaksud kata benda disini adalah kata yang dapat
digabung dengan afiks kepunyaan (-ku, -mu, -nya), atau
yang dapat dihubungkan secara langsung dengan kata bilangan, seperti: sendok,
sekolah, dan sebagainya. Untuk membentuk kata kerja, terdapat banyak afiks yang
dapat digabung dengan kata benda. Contoh: Menghantui (Meng-i ), Bersepeda
(ber-), Bertemankan (ber- dan -kan)
d. Kata keadaan
Kata keadaan adalah segala kata yang dapat dibuat dalam
komparasi (perbandingan), Seperti:
Bersih x kotor
Jauh x dekat
Kata kerja dapat dibentuk dari kata keadaan, dengan cara menggabungkannya
dengan afiks. Contoh: Jauhi (-i), Jauhkan (-kan), Menjauhi (men-
dan -i), Menjauhkan (men- dan -kan), Dijauhi (di-
dan -i), Dijauhkan (di- dan -kan), Memperjauh (men- dan
per-), Diperbesar (di- dan per-), Bersedih (ber-)
e. Kata bilangan
Kata bilangan adalah segala kata yang dapat digunakan untuk
menghitung sesuatu, seperti: satu, dua, tiga, sembilan, dan sebagainya. Kata
kerja dapat dibentuk dari kata dasar kata bilangan dengan afiks. Contoh:
Satukan (-kan), Menyatukan (men- dan -kan), Disatukan (di- dan -kan), Tersatukan (ter-dan-kan)
f. Kata ganti
Kata ganti orang dapat
dirumuskan sebagai berikut:
|
|
Orang ke-1
|
Orang ke-2
|
Orang ke-3
|
|
TUNGGAL
|
Hamba, Saya, Beta, Aku, Gua
|
Anda, Kamu, Engkau, Lu
|
Beliau, Dia, Ia
|
|
JAMAK
|
Kita/kami
|
Kalian
|
Mereka
|
Untuk membentuk kata kerja dari kata ganti orang
dapat menggabungkannya dengan afiks men-,
seperti mengaku.
BAB III
PENUTUP
Dari sedikit
contoh pembahasan yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil beberapa
kesimpulan terkait morfologi. Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf berarti
“Bentuk” dan Logi berarti “Ilmu”. Secara harfiah kata morfologi berarti
ilmu mengenai bentuk. Morfologi mempelajari ilmu mengenai bentuk-bertuk dan
pembentukan kata. Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi,
proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Sedangkan
Satuan morfologi ada dua morfem dan kata.
Adapun komponen yang terlibat dalam proses morfologi adalah
sebagai berikut: (1) Bentuk dasar adalah bentuk yang kepadanya dilakukan proses
morfologi itu. Contoh bentuk dasar: meja, kursi, tulis, baca (2) Alat
pembentukan kata dalam proses morfologi adalah (a) afiks dalam proses afiksasi
(b) pengulangan dalam proses reduplikasi (c) penggabungan dalam proses
komposisi (d) penyingkatan dalam proses akronimisasi (e) pengubahan status
dalam proses konversi. Proses morfologi ini dapat melalui beberapa cara, yaitu
afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi.
Kata dalam bahasa Indonesia berdasarkan struktur
morfologisnya terbagi menjadi empat jenis kata, yaitu morfologi kata benda (nomina
substantive), morfologi kata kerja (verba), morfologi kata sifat (adjectiva),
dan morfologi kata tugas (function words)
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2008. Linguistik Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses).
Jakarta: PT Rineka Cipta
Tarigan, Henri Guntur. 2009. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa
Verhaar, J.W.M. 2008. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
http://lisnatris321.blogspot.com/2014/05/morfologi-barab-dan-bindonesia.html
Diakses pada 18 Oktober 2018, 14:25:34

Tidak ada komentar:
Posting Komentar