16 Mei
2018
Aku
adalah mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Bahasa Arab di IAIN
Pontianak. Aku tinggal di asrama IAIN Pontianak bernama Ma’had Al-Jami’ah, aku
adalah santri angkatan pertama di asrama ini. Mungkin karena dianggap sudah
berpengalaman dengan susana di asrama, baik itu tentang pembelajaran maupun
kegiatan lainnya maka aku dipercaya untuk menjadi seorang “muharrikah”.
Singkat cerita, aku sekarang mengemban amanah sebagai seorang muharrikah
lantai 5 di asrama Ma’had Al-Jami’ah IAIN Pontianak sejak awal ajaran baru
tahun 2017 bersama 3 temanku yang lain yang menjadi muharrikah di lantai 2,3
dan 4. Sebagian besar muharrikah adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa
Arab, dan satu muharrikah lagi berasal dari jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam, dia sangat mahir berbahasa inggris dan dia juga pernah kursus langsung
ke kampung inggris yang berada di Pare. kami berada di smester yang berbeda.
Muharrikah itu sejenis asisten ustadzah yang ada di asramaku. Kerja kami adalah
meringankan dan membantu tugas para ustadz dan ustazdzah.
Siang
ini saat aku sedang sibuk dengan lattopku, tiba-tiba ada seseorang yang
datang ke kamarku, biasanya santri yang sering datang ke kamar karena tiga
alasan umum ini,
Pertama karena
ingin izin. Yah, ngapa harus izin ke aku ? karena aku seorang muharrikah lah,
hehe... Biasanya para santri akan izin untuk keluar atau pulang ke kampung
mereka masing-masing akan izin kepada ustadzah yang ada, akan tetapi jika
ustadzahnya tidak ada di tempat maka para santri akan izin kepadaku, tentu saja
santri yang izin tersebut akan ku laporkan lagi kepada ustadzah. Ternyata anak
yang datang itu tidak datang untuk sebuah perizinan.
Kedua,
para
santri ingin ngeprint tugasnya ke kamar. Oh iya, beberapa bulan yang
lalu aku membeli printer dari temanku yang telah menyelesaikan studinya, jadi
daripada printer temanku menganggur begitu saja aku beli dengan setengah harga.
Dan biasanya, para santri berdatangan ke kamarku pada maktu pagi dengan membawa
soft file tugas mereka masing-masing, aku pun juga ikut sibuk melayani
mereka semua. Akan tetapi, anak yang datang saat waktu menunjukan pukul 11.40
dan dia tidak datang untuk keperluan mengeprint tugasnya.
Ketiga, alasan
yang ketiga adalah untuk belajar atau meminta bantuan menyelesaikan tugas.
Walaupun, pada kenyataannya lebih banyak yang datang meminta bantuan untuk
menyelesaikan tugasnya. Menurutku, belajar dan meminta bantuan itu sangat
berbeda. Jika seseorang ingin belajar maka kita hanya akan menjelaskan
kepadanya apa yang ia minta, plus memberikan contoh yang relevan dengan
permasalahan yang tidak ia ketahui dan tidak lebih dari itu. Akan tetapi, jika
meminta seseorang meminta bantuan untuk menyelesaikan tugas maka kita akan
turun langsung dalam proses mengerjakan tugas tersebut, bahkan porsi kerja kita
akan lebih banyak dibanding orang yang meminta bantu.
Jujur
aku sangat tidak suka saat diminta bantuan seperti itu karena aku pikir anak
yang kita bantu akan tambah tidak tahu bukan bertambah pengetahuannya. Sebagian
besar kasus santri yang pernah ku bantu dalam menyelesaikan tugasnya, mereka
hanya pegang pulpen dan siap menulis serta menunggu ide pikiran yang akan
keluar dari kepalaku, saat masalah terselesaikan maka mereka hanya perlu
menulis apa yang aku intruksikan. Nah, itu sebabnya aku kurang setuju jika
diminta bantu seperti itu, karena santri tersebut akan semakin manja dan malas
berpikir. Mungkin jika mereka mendapat tugas dari dosennya, terutama tugas yang
berhubungan dengan bahasa, baik bahasa inggris, bahasa indonesia, atau bahasa
arab maka dengan cepat pikiran mereka akan tertuju dengan ustadz dan
ustadzahnya yang ada di Ma’had. Bahkan tidak jarang kami para muharrikah akan
menjadi sasaran untuk diminta bantuan. Ada juga yang akan meminta bantuan
kepada kakak tingkat satu jurusan dengan mereka yang kebetulan tinggal di
Ma’had juga.
IAIN
Pontianak adalah perguruan tinggi Islam oleh karena itu pada setiap semester
pertama (I) para mahasiswa pasti akan bertemu dengan mata kuliah Bahasa Arab
karena mata kuliah Bahasa Arab adalah mata kuliah Wajib untuk semua jurusan
yang ada, dan pasti akan ada tugas dari mata kuliah tersebut. Nah, Saat santri
Ma’had mendapatkan tugas mata kuliah Bahasa Arab mereka segara meminta bantuan
dari kami. Karena tidak semua santri Ma’had latar belakang pendidikannya dari
pesantren atau Madrasah Aliyah yang ada pelajaran Bahasa Arabnya. Jadi, mereka
biasanya akan kebingungan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Lebih parahnya
lagi, mereka tidak hanya meminta bantu untuk urusan mata kuliah Bahasa Arab
saja, ada juga Bahasa Inggris, bertanya tentang mata kuliah Fiqh, Ulumul
Hadist, dan sebagainya.
Aku
sebenarnya senang jika dapat meringankan tugas saudaranya, akan tetapi hal ada
beberapa hala yang tidak aku sukai, salah satunya adalah seperti yang terjadi
siang ini. Yah, seorang santri
itu datang dengan alasan yang ketiga yaitu untuk keperluan tugas. Dia
meminta bantuanku untuk menterjemahkan teks percakapan ke dalam bahasa Arab.
Setelah ku lihat teks yang ia bawa, aku sangat bingung dengan kata-kata yang
digunakan dalam percakapan tersebut jadi aku pun mencoba untuk menterjemah
dengan bahasa yang aku ubah polanya, meskipun artinya tidak sama persis dengan
teks tetapi maksud dari teks tersebut sama. Jika aku harus menterjemah sesuai
dengan teks tersebut maka pola bahasa Arabnya akan hancur. Misalnya :
A: hai cewek, lagi ngapain ?
Jika aku mengartikan sesuai teks maka, jadinya
begini
: مَرْآة.
ماذا تفعلين ؟ A
Maka, aku mencoba menterjemah seperti yang ku
tulis di bawah, walaupun aku tidak tahu apakah itu tepat atau tidak. Akan
tetapi aku juga memberi saran agar ekspresi orang yang bercakap nanti bernada
seperti sedang menggoda perempuan.
: ماذا تفعلين
هناك ؟ A
Aku hanya
mencoba mempraktekkan ilmu yang pernah aku dapatkan. Kata pemateri saat itu
menerjemah adalah memindahkan atau mengalihkan pesan dari bahasa sumber ke
bahasa sasaran. Eh, ternyata santri tersebut tidak setuju denganku. Entah apa
yang ia pikirkan tentangku, apakah ia berpikir kemampuan menerjemahku rendah atau
entah apakah itu.
Hal
itu lah yang tidak aku sukai, anak itu datang meminta ku untuk menerjemahkan teks percakapan yang ia bawa.
Ia hanya membawa kertas kosong, dia
tidak membawa alat menerjemah satu pun bahkan pulpen saja ia meminjam dariku. Jadi
kesimpulannya ia mau hasilnya 100 % dari aku kan ???. Setelah aku mencoba
membantunya, dia malah menyalahkan hasil terjemahanku.
Ada
hal lain yang juga tidak aku sukai, anak tadi datang ke kamarku dengan
tergesa-gesa, karena teks percakapan yang ia bawa dibutuhkan segera, beberapa
kali aku mendengar teman anak itu menanyakan tentang teks yang sedang aku
terjemahkan. Aku kurang suka jika didesak begitu, karena aku butuh waktu
berpikir terlebih dahulu. Walaupun aku berasal dari jurusan Bahasa Arab, aku
bukanlah kamus yang bisa bicara sehingga tidak butuh waktu lama untuk
menerjemah. Aku hanya manusia biasa, tidak semua kosakata bahasa Arab aku tau
artinya. Terlebih lagi untuk teks percakapan itu aku harus mencari pola bahasa
Arab yang tepat terlebih dahulu. Singkatnya, aku hanya butuh waktu J
Akhirnya
anak itu pun keluar dari kamarku dengan membawa setengah dari hasil terjemahan
tersebut, saat keluar aku mendengar ia berbicara dengan temannya di hp “gmana
nih ? hasil terjemahan Cuma sedikit ? kayaknya kita harus ke ustadz X lah, biar
bisa semuanya diterjemahkan”
Aku pun
hanya bisa menghembus nafas panjang dan berkata setelah ia pergi dari kamarku.
Parah...
parah... sasaran selanjutnya ... Ustadz X

Tidak ada komentar:
Posting Komentar