Pengalaman Berbahasa
Assalamu’alaikum Wr Wb
Sebelum memulai tulisan ini, saya akan memperkenalkan
nama saya dan latar belakang keluarga
saya terlebih dahulu, hal itu sangatlah penting karena akan berhubungan dengan
isi tulisan ini. Saya akan membahas pengalaman berbahasa yang pernah saya alami
selama ini, serta saya akan mencoba menganalisisnya dengan menggunakan teori
sosiolinguistik.
Nama saya “Raden Norhayati”. Sesuai dengan data yang
tertera di akte kelahiranku, saya dilahirkan pada tanggal 2 Maret 1996 di Desa
Balai Karangan Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat.
Saya dilahirkan dari sepasang suami istri Raden syafaruddin dan Dayang Intan.
Nama “Raden” saya dapatkan dari ayah, walaupun ayah kelahiran Balai Batang
Tarang, tetapi ayah masih merupakan keturunan Keraton Pakunegara Tayan,
meski hingga saat ini saya sendiri masih kurang faham dengan silsilah yang ayah
miliki hingga sampai pada kerabat-kerabat Keraton Pakunegara Tayan.
Sedangkan ibuku juga merupakan keturunan keraton Surya Negara Sanggau.
Nama “Dayang” yang ada pada nama ibu merupakan gelar untuk anak perempuan dari
seorang ayah yang bergelar “Abang”, sehingga untuk anak perempuan akan diberi
gelar “Dayang” jika ia seorang laki-laki maka akan diberi gelar “Abang”.
Saya merupakan orang suku melayu dan sejak kecil saya
berkomunikasi dengan anggota keluargaku, teman-teman bermainku, dan masyarakat
di kampungku menggunakan Bahasa Melayu Balai Karangan. Loh, mengapa lalu ada
nama Balai Karangan ? Padahal ayah berasal dari Balai Batang Tarang dan ibuku
berasal dari Desa Mengkiang. Singkat cerita, ayah dari semasa bujangnya ia
merantau ke negeri Malaysia, tepatnya di Sarawak untuk berkerja, jika ayah
pulang ke indonesia (ke kampung) maka ayah akan singgah dulu ke Balai Karangan.
Hal ini disebabkan oleh dua alasan, pertama karena jarak antara Sarawak
dengan Balai Karangan sekitar 68 Km dan yang kedua karena ayah selalu
datang, bahkan menginap di rumah pamannya yang ada di Balai Karangan. Begitu
juga dengan ibu yang merantau ke Desa Balai Karangan sejak gadis. Sehingga
Allah mempertemukan ayah dan Ibu menjadi sepasang suami istri pada tahun 1989.
Ayah dan ibu juga memutuskan untuk tinggal menetap di Desa Balai Karangan agar
ayah dekat dengan tempat ayah mencari nafkah, yaitu di Sarawak, Malaysia.
Sehingga saya serta seluruh saudaraku semua dilahirkan dan dibesarkan di Desa
Balai Karangan.
Sejak masuk sekolah dasar hingga sekolah menengah
pertama saya bersekolah di Balai Karangan. Sehingga saya terbiasa dengan dialek
bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat di rumah saya berkomunikasi
dengan keluargaku menggunakan bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat saya
berkomunikasi dengan teman bermainku. Walaupun di Sekolah saat kegiatan belajar
mengajar di kelas, kami tetap diajarkan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik
dan benar oleh para guru-guruku.
Hingga saat saya memasuki masa SMA, saya bersekolah di
ibu kota kabupatenku, yaitu Sanggau. Saat berada di Sanggau bahasa yang saya gunakan
tidaklah banyak berbeda dengan di dessaya dahulu, Bahasa Melayu Sanggau dan
Bahasa Melayu Balai Karangan tidaklah jauh berbeda hanya terletak perbedaan
pada penekanan kata dan logatnya saja, mungkin karena jarak antara Desa Balai
Karangan dengan Sanggau tidak terlalu jauh hanya sekitar 108 Km. Sehingga saya
tidak terlalu sulit saat beradaptasi khuhusnya masalah komunikasi dengan teman saat
bersekolah di Sanggau.
Namun hal ini sangat berbeda saat saya memasuki
perguruan tinggi. saya melanjutkan pendidikan saya di Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Pontianak, saya mengambil konsentrasi jurusan Pendidikan Bahasa
Arab. Kampusku yang berada di Kota Pontianak, jaraknya cukup jauh antara Desa
Balai Karangan dengan Kota Pontianak sekitar 218 Km, dua kali lipat jarak dari desa Balai Karangan ke ibu kota
kabupatenku. Jarak yang lumayan jauh itu juga berimbas dengan bahasa yang saya
gunakan sehari-hari, karena saya banyak bertemu dengan orang asing di sini,
sudah tentu bahasanya juga ada beberapa yang asing terdengar oleh telingaku.
Terlebih saat saya bertemu dengan orang asli kota Pontianak, logat dan bahasa
mereka sangat mirip sekali dengan bahasa melayu Malaysia atau yang sering
terdengar di serial animasi Ipin Dan Upin. Padahal jika diukur dengan
jarak, maka jarak antara desaku Balai Karangan ke Malaysia lebih dekat
dibanding jarak Pontianak ke Malaysia. Akan tetapi bahasa yang digunakan oleh
orang asli Pontianak cenderung terdengar seperti bahasa melayu malaysia.
Sebenarnya ada banyak kata yang sempat membuat saya
bingung dalam berbahasa dikarenakan perbedaan arti antara bahasa yang ku fahami
dan bahasa Melayu Pontianak. Akan tetapi saya hanya menjabarkan sebagian saja,
seperti pada beberapa kejadian yang pernah saya alami, yaituu kesalahfahaman
hanya dikarenakan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara berbeda makna akan
tetapi sama bunyinya sehingga tidak dapat saya fahami, seperti beberapa kata
berikut:
1.
Kata “semalam”, dari kata itu yang dapat saya fahami adalah “malam kemarin; malam sebelum hari ini; malam tadi”, itu juga sesuai dengan yang saya fahami selama saya
belajar Bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekarang ini. Akan tetapi,
masyarakat asli Kota Pontianak mengartikan kata “semalam” dengan arti
“Kemaren”. Tentu saja itu berbeda dengan apa yang telah saya pelajari sehingga saya
pun salah mengartikan pertanyaan teman kelasku, saat ia bertanya kepadaku,
Teman: “Den, kenape semalam kakak cari raden di Kampus, kok raden tadak
ade ?”
Tentu saja saya akan menjawab, “kak, ngapain raden ke kampus malam-malam
?, kan kita kuliah siang, ngapain ke Kampusnya malam ? pastilah raden dah
pulang ke Rumah kalo udah malam”.
Anehnya lagi, temanku langsung menepuk jidatnya, dengan seraya berkata
teman: “kemaren bah den !!!!!, masak itu pon tak faham ?”
Saya pun bingung sekali, dan berfikir. Apakah saya yang salah ?
Saya: ??????? gimana sih, kakak
nyari raden tu semalam apa kemaren ?
Semalam, ya semalam. Kemeren, ya kemaren lah kak. Kok jadi sama antara
“semalam” dan “kemaren”?”
2.
Ada lagi kata yang sangat berbeda artinya menurutku jika dibandingkan
dengan Bahasa Indonesia yang sebenarnya. Kata itu adalah kata “Turun”, “turun”
berarti bergerak
ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula, setidaknya itulah arti kata yang saya dapatkan dari Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI). Akan tetapi lagi-lagi masyarakat asli Kota Pontianak
mengartikan kata “Turun” dengan arti “Berangkat”. Menurutku dua arti tadi itu adalah dua hal
yang sangat jauh berbeda sehingga saya pun tidak tahu apa arti yang difahami
oleh masyarakat asli Kota Pontianak dengan kata “turun” itu. Hal ini juga
menjadikan kesalahfahaman antara saya dan temanku, kejadian itu terjadi saat
temanku bertanya kepadaku lewat pesan singkat, ia bertanya apakah saya sudah berangkat dari
rumah kontrakan ke kampus, akan tetapi ia malah bertanya seperti ini:
Teman: “den, dah turun ke ?”
Saya: “hah ?? turun dari mana ? ke mana ?
Teman: “turun ke kampus lah den !!!”
Saya: “Oooooo, belum, saya belum berangkat nih, mungkin sebentar lagi
lah. Soalnya lagi sarapan.”
3.
Dalam bahasa Indonesia saya mengenal istilah untuk orang yang suka
bertingkah laku berlebihan atau orang yang suka bertingkah laku aneh sehingga
mengundang orang lain untuk melihat dan memandangnya adalah “orang yang banyak
gaya”. Akan tetapi, masyarakat asli Kota Pontianak menyebutnya dengan “jawak”.
Sehingga saat masyarakat asli Kota Pontianak melihat orang yang banyak gaya,
mereka akan menyebutnya dengan sebutan “jawak”, saya mengira “jawak” artinya
adalah orang suku jawa ternyata artinya sangat jauh dari itu. Sebelumnya saya
tidak tahu arti “jawak” sesungguhnya, hingga sampai pada suatu saat saya
bertemu dengan temanku di kelas, teman kelasku mengomentari seseorang yang dia
lihat, orang yang dia lihat itu terlihat banyak gaya dan tingkah lakunya aneh
sekali.
Teman: “iiiii, ngape lah die tu...? jawak benar....”
Saya: “haah ? dia orang jawa ya ?”
Teman: “bukanlah, die tu jawak, bukan orang jawa” isshh, kau ni tak
faham”
Saya:
?????
Hingga sampai saat ini, walaupun sudah terhitung kurang
lebih 4 tahun saya kuliah di Pontianak akan tetapi saya masih tidak terbiasa
menggunakan Bahasa Melayu Pontianak, karena saya pikir itu sangat tidak cocok
denganku, jika saya berkomunikasi dengan Bahasa Melayu Pontianak maka akan
terdengar sangat aneh sekali, baik dari segi logat dan gaya bahasanya yang
belum terlalu saya fahami. Saya malu jika harus berbicara dengan Bahasa Melayu
Pontianak, apa lagi jika lawan bicarsaya adalah masyarakat asli Kota Pontianak,
mungkin mereka akan mentertawaiku dengan mendengar logat bicaraku dengan
menggunakan bahasa Melayu Pontianak yang tidak kawuran.
Selain antara
beberapa kata dari bahasa melayu Pontianak dan bahasa melayu Balai
Karangan yang mengalami perbedaan dari segi makna walaupun memiliki bunyi dan
penulisan yang sama. Saya juga menemukan perbedaaan yang lain antara bahasa
melayu balai karangan dan Bahasa Indonesia yang baku. Perbedaan itu terdapat
pada kata “Tamak”. Menurut kamus KBBI, kata tamak memiliki arti selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba;
serakah
contoh: 'ia tamak akan harta'. Akan tetapi di dalam bahasa melayu Balai Karangan kata “Tamak” memiliki arti masuk, masuk ke dalam rumah. Perbedaan makna yang sangat jauh itu tentu saja akan menimbulkan kesalahfaham antara dua orang yang sukunya berbeda pula. Jika ada orang yang bukan suku melayu Balai Karangan, serta tidak faham dengan bahasa melayu Balai Karangan, dia hanya faham dengan bahasa Indonesia. Anggap saja orang itu suku jawa, jika ia bertemu dan bertamu ke rumah orang suku melayu Balai Karangan maka akan terjadi kejadian yang kurang lebih seperti ini,
contoh: 'ia tamak akan harta'. Akan tetapi di dalam bahasa melayu Balai Karangan kata “Tamak” memiliki arti masuk, masuk ke dalam rumah. Perbedaan makna yang sangat jauh itu tentu saja akan menimbulkan kesalahfaham antara dua orang yang sukunya berbeda pula. Jika ada orang yang bukan suku melayu Balai Karangan, serta tidak faham dengan bahasa melayu Balai Karangan, dia hanya faham dengan bahasa Indonesia. Anggap saja orang itu suku jawa, jika ia bertemu dan bertamu ke rumah orang suku melayu Balai Karangan maka akan terjadi kejadian yang kurang lebih seperti ini,
Suku Jawa :
Assalamu’alaikum
Suku Balai :
Wa’alaikumsalam, baru datang ya pak ? silahkan pak, tamaklah !
Suku Jawa :
iya pak, (bebicara di dalam hati: kok aku dikatain orang yang tamak sih,
padahal baru saja aku nyampe)
ANALISIS PENGALAMAN BERBAHASA
Sesuai dengan pengalaman bahasa yang telah penulis paparkan di
atas, maka penulis mencoba menganalisis pengalaman berbahasa tersebut dengan
ilmu sosiolinguistik yang penulis fahami.
Menurut Tangson. R. Pangaribuan di dalam
tulisannya, saat kita mempelajari sosiolinguistik berarti kita mempelajari
bahasa dalam konteks sosio-kultural serta hubungan penutur dengan
pendengarnnya. Kelompok sosial mengacu pada perbedaan penduduk atau kelompok
dalam kelas-kelas kekuasaan, pendapatan, kedudukan, dan jenis pekerjaan.
Melalui kajian sosiolinguistik kita dapat mengetahui variasi bahasa sekaligus
kelompok-kelompok/kelas-kelas sosial suatu masyarakat.
Pada pengalaman berbahasa tersebut penulis cenderung menceritakan
tentang kebingungannya tentang bahasa yang ia temui saat ia berada di kota
Pontianak, karena masa kecil penulis bukan di kota Pontianak serta bahasa
sehari-hari penulis juga bukan bahasa melayu Pontianak maka sewajarnya jika
penulis banyak bingung dengan bahasa melayu Pontianak tersebut, ternyata tempat
seseorang dilahirkan dan dibesarkan atau yang lebih dikenal dengan lingkungan
berbahasa itu sangat memberi pengaruh terhadap bahasanya seseorang. Jadi setiap
tempat mempunyai bahasa mereka tersendiri dan terdapat banyak perbedaan dengan
daerah lainnya juga. Hal ini disebabkan bahasa sebagai objek kajian linguistik
memiliki sifat arbitrer (mana suka), setiap daerah mempunyai kesepakatan bahasa
yang berbeda dengan daerah yang lain. Perbedaan bahasa tersebut menunjukan
bahwa bahasa itu unik karena dengan bahasa yang berbeda tersebut seseorang
dapat dikenali suku dan budayanya, karena bahasa adalah ciri pembeda yang
paling menonjol dan dengan bahasa suatu kelompok dapat mengidentifikasikan
dirinya. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1985:3) mengatakan bahwa, “sosiologi
bahasa membidangi faktor-faktor sosial dalam skala besar yang saling
bertimbal-balik dengan bahasa dan dialek-dialek.
Dari beberapa pengalaman berbahasa itu juga menyiratkan bahwa ada
hubungannya dengan ilmu semantik, yaitu relasi bentuk dan makna. Ada sebuah
kata yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi memiliki makna yang berbeda.
Hal itu terjadi pada kata: (1) Semalam, (2) Turun, (3) Banyak gaya. Kata-kata
tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda antara bahasa Indonesia dengan
bahasa melayu pontianak yang telah penulis paparkan di atas. Tentu masih banyak
kata-kata dalam bahasa daerah yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi
memiliki arti yang berbeda.
Salah satu faktor yang menyebabkan munculnya variasi bahasa dalam
sosioliungistik adalah faktor tempat. Tempat berbahasa yang berbeda akan
berpengaruh pada perbedaan pilihan kata yang digunakan. Pilihan kata ada
kecendrungannya bahwa pendidikan pemakai bahasa mempengaruhi tingkat kesukaran
dan keunikan kata yang digunakan. Bahasa yang digunakan oleh kelompok tertentu
berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lain.
Daftar Pustaka
Al wasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa
Tangson. R. Pangaribuan. Hubungan Variasi Bahasa Dengan Kelompok
Sosial Dan Pemakaian Bahasa. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Medan
