Minggu, 22 September 2019

Pengalaman Berbahasa serta menganalisisnya denga teori sosiolinguistik


Pengalaman Berbahasa
Assalamu’alaikum Wr Wb
Sebelum memulai tulisan ini, saya akan memperkenalkan nama saya  dan latar belakang keluarga saya terlebih dahulu, hal itu sangatlah penting karena akan berhubungan dengan isi tulisan ini. Saya akan membahas pengalaman berbahasa yang pernah saya alami selama ini, serta saya akan mencoba menganalisisnya dengan menggunakan teori sosiolinguistik.
Nama saya “Raden Norhayati”. Sesuai dengan data yang tertera di akte kelahiranku, saya dilahirkan pada tanggal 2 Maret 1996 di Desa Balai Karangan Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Saya dilahirkan dari sepasang suami istri Raden syafaruddin dan Dayang Intan. Nama “Raden” saya dapatkan dari ayah, walaupun ayah kelahiran Balai Batang Tarang, tetapi ayah masih merupakan keturunan Keraton Pakunegara Tayan, meski hingga saat ini saya sendiri masih kurang faham dengan silsilah yang ayah miliki hingga sampai pada kerabat-kerabat Keraton Pakunegara Tayan. Sedangkan ibuku juga merupakan keturunan keraton Surya Negara Sanggau. Nama “Dayang” yang ada pada nama ibu merupakan gelar untuk anak perempuan dari seorang ayah yang bergelar “Abang”, sehingga untuk anak perempuan akan diberi gelar “Dayang” jika ia seorang laki-laki maka akan diberi gelar “Abang”.
Saya merupakan orang suku melayu dan sejak kecil saya berkomunikasi dengan anggota keluargaku, teman-teman bermainku, dan masyarakat di kampungku menggunakan Bahasa Melayu Balai Karangan. Loh, mengapa lalu ada nama Balai Karangan ? Padahal ayah berasal dari Balai Batang Tarang dan ibuku berasal dari Desa Mengkiang. Singkat cerita, ayah dari semasa bujangnya ia merantau ke negeri Malaysia, tepatnya di Sarawak untuk berkerja, jika ayah pulang ke indonesia (ke kampung) maka ayah akan singgah dulu ke Balai Karangan. Hal ini disebabkan oleh dua alasan, pertama karena jarak antara Sarawak dengan Balai Karangan sekitar 68 Km dan yang kedua karena ayah selalu datang, bahkan menginap di rumah pamannya yang ada di Balai Karangan. Begitu juga dengan ibu yang merantau ke Desa Balai Karangan sejak gadis. Sehingga Allah mempertemukan ayah dan Ibu menjadi sepasang suami istri pada tahun 1989. Ayah dan ibu juga memutuskan untuk tinggal menetap di Desa Balai Karangan agar ayah dekat dengan tempat ayah mencari nafkah, yaitu di Sarawak, Malaysia. Sehingga saya serta seluruh saudaraku semua dilahirkan dan dibesarkan di Desa Balai Karangan.
Sejak masuk sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama saya bersekolah di Balai Karangan. Sehingga saya terbiasa dengan dialek bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat di rumah saya berkomunikasi dengan keluargaku menggunakan bahasa melayu Balai Karangan, begitu juga saat saya berkomunikasi dengan teman bermainku. Walaupun di Sekolah saat kegiatan belajar mengajar di kelas, kami tetap diajarkan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh para guru-guruku.
Hingga saat saya memasuki masa SMA, saya bersekolah di ibu kota kabupatenku, yaitu Sanggau. Saat  berada di Sanggau bahasa yang saya gunakan tidaklah banyak berbeda dengan di dessaya dahulu, Bahasa Melayu Sanggau dan Bahasa Melayu Balai Karangan tidaklah jauh berbeda hanya terletak perbedaan pada penekanan kata dan logatnya saja, mungkin karena jarak antara Desa Balai Karangan dengan Sanggau tidak terlalu jauh hanya sekitar 108 Km. Sehingga saya tidak terlalu sulit saat beradaptasi khuhusnya masalah komunikasi dengan teman saat bersekolah di Sanggau.
Namun hal ini sangat berbeda saat saya memasuki perguruan tinggi. saya melanjutkan pendidikan saya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, saya mengambil konsentrasi jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Kampusku yang berada di Kota Pontianak, jaraknya cukup jauh antara Desa Balai Karangan dengan Kota Pontianak sekitar 218 Km, dua kali lipat jarak  dari desa Balai Karangan ke ibu kota kabupatenku. Jarak yang lumayan jauh itu juga berimbas dengan bahasa yang saya gunakan sehari-hari, karena saya banyak bertemu dengan orang asing di sini, sudah tentu bahasanya juga ada beberapa yang asing terdengar oleh telingaku. Terlebih saat saya bertemu dengan orang asli kota Pontianak, logat dan bahasa mereka sangat mirip sekali dengan bahasa melayu Malaysia atau yang sering terdengar di serial animasi Ipin Dan Upin. Padahal jika diukur dengan jarak, maka jarak antara desaku Balai Karangan ke Malaysia lebih dekat dibanding jarak Pontianak ke Malaysia. Akan tetapi bahasa yang digunakan oleh orang asli Pontianak cenderung terdengar seperti bahasa melayu malaysia.
Sebenarnya ada banyak kata yang sempat membuat saya bingung dalam berbahasa dikarenakan perbedaan arti antara bahasa yang ku fahami dan bahasa Melayu Pontianak. Akan tetapi saya hanya menjabarkan sebagian saja, seperti pada beberapa kejadian yang pernah saya alami, yaituu kesalahfahaman hanya dikarenakan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara berbeda makna akan tetapi sama bunyinya sehingga tidak dapat saya fahami, seperti beberapa kata berikut:
1.      Kata “semalam”, dari kata itu yang dapat saya fahami adalah “malam kemarin; malam sebelum hari ini; malam tadi”, itu juga sesuai dengan yang saya fahami selama saya belajar Bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekarang ini. Akan tetapi, masyarakat asli Kota Pontianak mengartikan kata “semalam” dengan arti “Kemaren”. Tentu saja itu berbeda dengan apa yang telah saya pelajari sehingga saya pun salah mengartikan pertanyaan teman kelasku, saat ia bertanya kepadaku,
Teman: “Den, kenape semalam kakak cari raden di Kampus, kok raden tadak ade ?”
Tentu saja saya akan menjawab, “kak, ngapain raden ke kampus malam-malam ?, kan kita kuliah siang, ngapain ke Kampusnya malam ? pastilah raden dah pulang ke Rumah kalo udah malam”.
Anehnya lagi, temanku langsung menepuk jidatnya, dengan seraya berkata teman: “kemaren bah den !!!!!, masak itu pon tak faham ?”
Saya pun bingung sekali, dan berfikir. Apakah saya yang salah ?
Saya: ???????  gimana sih, kakak nyari raden tu semalam apa kemaren ?
Semalam, ya semalam. Kemeren, ya kemaren lah kak. Kok jadi sama antara “semalam” dan “kemaren”?”
2.      Ada lagi kata yang sangat berbeda artinya menurutku jika dibandingkan dengan Bahasa Indonesia yang sebenarnya. Kata itu adalah kata “Turun”, “turun” berarti bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula, setidaknya itulah arti kata yang  saya dapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akan tetapi lagi-lagi masyarakat asli Kota Pontianak mengartikan kata “Turun” dengan arti “Berangkat”.  Menurutku dua arti tadi itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda sehingga saya pun tidak tahu apa arti yang difahami oleh masyarakat asli Kota Pontianak dengan kata “turun” itu. Hal ini juga menjadikan kesalahfahaman antara saya dan temanku, kejadian itu terjadi saat temanku bertanya kepadaku lewat pesan singkat,  ia bertanya apakah saya sudah berangkat dari rumah kontrakan ke kampus, akan tetapi ia malah bertanya seperti ini:
Teman: “den, dah turun ke ?”
Saya: “hah ?? turun dari mana ? ke mana ?
Teman: “turun ke kampus lah den !!!”
Saya: “Oooooo, belum, saya belum berangkat nih, mungkin sebentar lagi lah. Soalnya lagi sarapan.”
3.      Dalam bahasa Indonesia saya mengenal istilah untuk orang yang suka bertingkah laku berlebihan atau orang yang suka bertingkah laku aneh sehingga mengundang orang lain untuk melihat dan memandangnya adalah “orang yang banyak gaya”. Akan tetapi, masyarakat asli Kota Pontianak menyebutnya dengan “jawak”. Sehingga saat masyarakat asli Kota Pontianak melihat orang yang banyak gaya, mereka akan menyebutnya dengan sebutan “jawak”, saya mengira “jawak” artinya adalah orang suku jawa ternyata artinya sangat jauh dari itu. Sebelumnya saya tidak tahu arti “jawak” sesungguhnya, hingga sampai pada suatu saat saya bertemu dengan temanku di kelas, teman kelasku mengomentari seseorang yang dia lihat, orang yang dia lihat itu terlihat banyak gaya dan tingkah lakunya aneh sekali.
Teman: “iiiii, ngape lah die tu...? jawak benar....”
Saya: “haah ? dia orang jawa ya ?”
Teman: “bukanlah, die tu jawak, bukan orang jawa” isshh, kau ni tak faham
Saya: ?????
Hingga sampai saat ini, walaupun sudah terhitung kurang lebih 4 tahun saya kuliah di Pontianak akan tetapi saya masih tidak terbiasa menggunakan Bahasa Melayu Pontianak, karena saya pikir itu sangat tidak cocok denganku, jika saya berkomunikasi dengan Bahasa Melayu Pontianak maka akan terdengar sangat aneh sekali, baik dari segi logat dan gaya bahasanya yang belum terlalu saya fahami. Saya malu jika harus berbicara dengan Bahasa Melayu Pontianak, apa lagi jika lawan bicarsaya adalah masyarakat asli Kota Pontianak, mungkin mereka akan mentertawaiku dengan mendengar logat bicaraku dengan menggunakan bahasa Melayu Pontianak yang tidak kawuran.
Selain antara  beberapa kata dari bahasa melayu Pontianak dan bahasa melayu Balai Karangan yang mengalami perbedaan dari segi makna walaupun memiliki bunyi dan penulisan yang sama. Saya juga menemukan perbedaaan yang lain antara bahasa melayu balai karangan dan Bahasa Indonesia yang baku. Perbedaan itu terdapat pada kata “Tamak”. Menurut kamus KBBI, kata tamak memiliki arti selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri; loba; serakah
contoh: 'ia tamak akan harta'
. Akan tetapi di dalam bahasa melayu Balai Karangan kata “Tamak” memiliki arti masuk, masuk ke dalam rumah. Perbedaan makna yang sangat jauh itu tentu saja akan menimbulkan kesalahfaham antara dua orang yang sukunya berbeda pula. Jika ada orang yang bukan suku melayu Balai Karangan, serta tidak faham dengan bahasa melayu Balai Karangan, dia hanya faham dengan bahasa Indonesia. Anggap saja orang itu suku jawa, jika ia bertemu dan bertamu ke rumah orang suku melayu Balai Karangan maka akan terjadi kejadian yang kurang lebih seperti ini,
Suku Jawa       : Assalamu’alaikum
Suku Balai       : Wa’alaikumsalam, baru datang ya pak ? silahkan pak, tamaklah !
Suku Jawa       : iya pak, (bebicara di dalam hati: kok aku dikatain orang yang tamak sih, padahal baru saja aku nyampe)

ANALISIS PENGALAMAN BERBAHASA
Sesuai dengan pengalaman bahasa yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis mencoba menganalisis pengalaman berbahasa tersebut dengan ilmu sosiolinguistik yang penulis fahami.
Menurut Tangson. R. Pangaribuan di dalam tulisannya, saat kita mempelajari sosiolinguistik berarti kita mempelajari bahasa dalam konteks sosio-kultural serta hubungan penutur dengan pendengarnnya. Kelompok sosial mengacu pada perbedaan penduduk atau kelompok dalam kelas-kelas kekuasaan, pendapatan, kedudukan, dan jenis pekerjaan. Melalui kajian sosiolinguistik kita dapat mengetahui variasi bahasa sekaligus kelompok-kelompok/kelas-kelas sosial suatu masyarakat.
Pada pengalaman berbahasa tersebut penulis cenderung menceritakan tentang kebingungannya tentang bahasa yang ia temui saat ia berada di kota Pontianak, karena masa kecil penulis bukan di kota Pontianak serta bahasa sehari-hari penulis juga bukan bahasa melayu Pontianak maka sewajarnya jika penulis banyak bingung dengan bahasa melayu Pontianak tersebut, ternyata tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan atau yang lebih dikenal dengan lingkungan berbahasa itu sangat memberi pengaruh terhadap bahasanya seseorang. Jadi setiap tempat mempunyai bahasa mereka tersendiri dan terdapat banyak perbedaan dengan daerah lainnya juga. Hal ini disebabkan bahasa sebagai objek kajian linguistik memiliki sifat arbitrer (mana suka), setiap daerah mempunyai kesepakatan bahasa yang berbeda dengan daerah yang lain. Perbedaan bahasa tersebut menunjukan bahwa bahasa itu unik karena dengan bahasa yang berbeda tersebut seseorang dapat dikenali suku dan budayanya, karena bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol dan dengan bahasa suatu kelompok dapat mengidentifikasikan dirinya. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1985:3) mengatakan bahwa, “sosiologi bahasa membidangi faktor-faktor sosial dalam skala besar yang saling bertimbal-balik dengan bahasa dan dialek-dialek.
Dari beberapa pengalaman berbahasa itu juga menyiratkan bahwa ada hubungannya dengan ilmu semantik, yaitu relasi bentuk dan makna. Ada sebuah kata yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi memiliki makna yang berbeda. Hal itu terjadi pada kata: (1) Semalam, (2) Turun, (3) Banyak gaya. Kata-kata tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu pontianak yang telah penulis paparkan di atas. Tentu masih banyak kata-kata dalam bahasa daerah yang memiliki bentuk yang sama akan tetapi memiliki arti yang berbeda.
Salah satu faktor yang menyebabkan munculnya variasi bahasa dalam sosioliungistik adalah faktor tempat. Tempat berbahasa yang berbeda akan berpengaruh pada perbedaan pilihan kata yang digunakan. Pilihan kata ada kecendrungannya bahwa pendidikan pemakai bahasa mempengaruhi tingkat kesukaran dan keunikan kata yang digunakan. Bahasa yang digunakan oleh kelompok tertentu berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh kelompok yang lain.

Daftar Pustaka
Al wasilah, A. Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa
Tangson. R. Pangaribuan. Hubungan Variasi Bahasa Dengan Kelompok Sosial Dan Pemakaian Bahasa. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Rabu, 06 Februari 2019

MAKALAH Linguistik




MAKALAH

Mata Kuliah  : Linguistik
Dosen pengampu: Dr. Yusriadi
Asisten Dosen: Farninda Aditya



Nama              : Raden Norhayati
NIM                : 113110006


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
2019

DAFTAR ISI
Daftar Isi.......................................................................................................... i
BAB I Pendahuluan........................................................................................ 1
BAB II Pembahasan........................................................................................ 3
A.  Pengertian dan Ruang Lingkup Morfologi................................................. 3
B.  Objek morfologi.......................................................................................... 4
C.  Proses Morfologi......................................................................................... 6
D.  Macam dan Bentuk Morfologi Bahasa Indonesia...................................... 8
BAB III Penutup............................................................................................ 12
Daftar Pustaka................................................................................................ 13



BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan sistem, tentu saja bahasa bersifat sistemis atau mempunyai atauran-aturan yang khas. Lebih jelasnya, bahasa merupakan fenomena yang memadukan bagian makna dan bagian bunyi mempunyai 3 subsistem, yaitu subsistem fonologis, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal.
Morfologi atau tata bentuk adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Sedangkan proses morfologis adalah suatu proses yang mengubah leksem atau satuan leksikal menjadi kata. Dalam proses pembentukan kata ada tiga komponen yang sangat erat berkaitan, yaitu leksem (input), morfem dan kata (output). Dengan kata lain proses pembentukan kata itu bisa terjadi pula proses pembentukan morfem atau satuan terkecil kata. Seluk-beluk struktur kata serta pengaruh perubahanperubahan struktur kata terhadap golongan dan arti atau makna kata itulah yang dipelajari oleh bidang morfologi.
Sebagai contoh pada kata ”makanan”, “dimakan”, dan “termakan” masing-masing terdiri atas dua bentuk bermakna yaitu –an, di-, ter- dengan makan. Kata makan-makan terdiri atas dua bentuk bermakna makan dan makan. Rumah makan pun terdiri atas dua bentuk bermakan rumah dan makan. Berdasarkan contoh di atas, kita dapat mengetahui bahwa bentuk-bentuk tersebut dapat berubah karena terjadi suatu proses.
Kata makan dapat berubah menjadi makanan, dimakan, termakankarena masing-masing adanya penambahanan, di, dan terdapat pula menjadi makan-makan karena adanya pengulangan, dapat pula menjadi rumah makan karena penggabungan dengan rumah. Perubahan bentuk atau struktur kata tersebut dapat pula diikuti oleh perubahan jenis atau makna kata. Kata makan termasuk jenis atau golongan kata kerja sedangkan makanan termasuk jenis atau golongan kata benda. Dari segi makna kata makan maknanya ‘memasukan sesuatu melalui mulut’, sedangkan makanan maknanya ‘semua benda yang dapat dimakan’. Seluk-beluk struktur kata serta pengaruh perubahan-perubahan struktur kata terhadap golongan dan arti atau makna kata seperti contoh di atas itulah yang dipelajari oleh bidang morfologi yang akan dibahas dalam makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Ruang Lingkup Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf berarti “Bentuk” dan Logi berarti “Ilmu”. Secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Sehingga di dalam kajian bidang ilmu linguistik, menurut Abdul Chaer (2008:3) morfologi berarti “ilmu mengenai bentuk-bertuk dan pembentukan kata”. Sedangkan menurut Lisna Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk, bentuk kata dan perubahan bentuk kata, serta makna yang muncul akibat perubahan-perubahan bentuk kata. Menurut Verhaar (2008: 97) Ilmu morfologi menyangkut struktur “internal” kata.  Cabang morfologi mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Sebagai contoh pada kata berhak terdiri atas dua satuan minimal, yaitu ber- dan hak; satuan minimal gramatikal itu dinamakan “morfem”. Dalam morfologi hal yang diamati adalah kata itu sendiri sebagai satuan yang dianalisis sebagai morfem satu atau lebih. Pada sumber lain menyebutkan bahawa Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun semantik (Henri, 2009:4).
Adapun morfologi bahasa Arab (Sharf) adalah ilmu tentang asal-usul kata dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dari kata-kata bahasa Arab dan keadaannya, yang bukan ‘irab dan bukan bina, yaitu ilmu yang membahas tentang berbagai kata dari sisi tasrif, i’lal, idgam, dan penggantian huruf. Ruang lingkup pembahasan morfologi bahasa Arab adalah sebagai berikut:
1.    Isim yang mutamakkin (yang dapat dii’rab),
2.    Fi’il yang dapat ditasrif, yang keduanya dalam keadaan sendirian (terpisah dari rangkaian kalimat).
Maka morfologi bahasa Arab tidak membicarakan Isim-isim mabni, fi’il-fi’il jamid (fi’il yang tidak bisa ditasrif), dan huruf-huruf. Komponen kata dalam bahasa Arab ada tiga pembagian, yaitu isim, fi’il, dan huruf.
B.     Objek Morfologi
Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Satuan morfologi adalah:
1.    Morfem
Menurut Abdul Chaer (2003: 146) sebagai satuan fungsional, morfem ini merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Morfem ini dapat berupa akar (dasar) dan dapat pula berupa afiks. Akar menjadi dasar dalam pembentukan kata, sedangkan afiks tidak; akar memiliki makna leksikal (makna apa adanya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra manusia); sedangkan afiks hanya “menjadi” penyebab terjadinya makna gramatikal (makna yang terbentuk dari proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi dan sebagainya). Morfem terdiri dari beberapa macam:
a.       Morfem bebas dan terikat
Morfem bebas menurut Verhaar (2008: 97) adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak membutuhkan bentuk lain yang digabung dengannya, dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk bebas lainnya di depannya dan di belakangnya, dalam tuturan. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan yang hanya dapat meleburkan diri pada morfem yang lain.
Menurut Abdul Chaer (2003: 152) morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam petuturan. Dalam bahasa Indonesia, misalnya pulang, makan, rumah, dan bagus. Morfem tersebut dapat digunakan tanpa penggabungan dengan morfem yang lain. Sebaliknya, morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabungan dulu dengan morfem lain tidak dapat muncil dalam petuturan.
b.      Morfem dasar dan jenisnya
Morfem dasar adalah morfem yang dileburi morfem yang lain berupa imbuhan atau klitika atau bentuk dasar yang lain (dalam permajemukan) atau yang sama (dalam reduplikasi).  Morfem dasar ada tiga macam:
1)   Morfem pangkal adalah morfem dasar yang bebas; contohnya hak dalam berhak.
2)   Morfem akar adalah morfem dasar yang berbentuk terikat. Agar menjadi bentuk bebas, akan harus mengalami pengimbuhan.
3)   Pradasar adalah bentuk yang membutuhkan pengimbuhan dan pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentuk bebas. Misalnya, morfem ajar berupa pradasar. Morfem tersebut dapat menjadi bebas melalui pengimbuhan, seperti mengajar, belajar, dan sebagainya. Serta dapat juga melalui pengklitikan seperti kami ajar, saya ajar, dan dengan yang serupa. Dapat juga dengan pemajemukan, seperti kurang ajar.
c.       Morfem Utuh Dan Morfem Terbagi
Menurut Abdul Chaer (2003: 153) Semua morfem dasar bebas adalah termasuk morfem utuh seperti meja, kursi, kecil, laut dan pensil. Begitu juga morfem terikat, seperti ter, ber, henti, dan juang.  Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Seperti dalam bahasa Indonesia kita menngenal ke-/-an, per-/-an dan sebagainya.
d.      Morfem Segmental Dan Morfem Nonsegmental
Menurut Verhaar (2008: 101) morfem segmental adalah morfem yang dapat diidentifikasi sebagai satuan pada “garis” dari kiri ke kanan. Menurut Abdul Chaer (2003: 156) morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem lihat, lah, sikat, ber. Sehingga semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem nonsegmental adalah morfem yang terbentuk oleh unsur-unsur non segmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.
e.       Morfem beralomorf Zero
Menurut Abdul Chaer (2003: 150) morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya, alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya. Alomorf adalah bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama. Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Setiap morfem tentu mempunyai alomorf sebanyak satu, dua atau enam buah. Selain itu juga bisa dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama.
2.    Kata
Kata adalah satuan gramatikal yang terjadi sebagai hasil dan proses morfologi. Dalam tataran morfologi, kata merupakan satuan terbesar dan dalam tataran sintaksis merupakan satuan terkecil. Secara berdiri sendiri setiap kata memiliki makna leksikal dan dalam kedudukannya dalam satu ujaran memiliki makna gramatikal. Dengan kata lain, secara struktural objeknya adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
C.    Proses Morfologi
Proses morfologi adalah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Jadi kata adalah bentuk minimal yang bebas; bebas di sini berarti bahwa bentuk itu dapat diucapkan tersendiri, dapat didahului dan diikuti oleh jeda yang potensial. Dengan begitu terbukti bahwa bentuk terkecil adalah morfem, sedangkan yang terbesar adalah kata. Adapun komponen yang terlibat dalam proses morfologi adalah sebagai berikut:
1.    Bentuk dasar adalah bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Contoh bentuk dasar: meja, kursi, tulis, baca
2.    Alat pembentukan kata dalam proses morfologi adalah (a) afiks dalam proses afiksasi (b) pengulangan dalam proses reduplikasi (c) penggabungan dalam proses komposisi (d) penyingkatan dalam proses akronimisasi (e) pengubahan status dalam proses konversi.
Proses morfologi ini dapat melalui beberapa cara, yaitu:
1.    Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan (Abdul Chaer, 2003: 177). Menurut posisinya afiks ini dapat dibedakan atas jenis, yaitu:
a.       Prefiks (awalan)
Prefiks atau awalan adalah bentuk terikat yang dibubuhkan di awal dasar kata, seperti me- pada kata menghibur, me- pada kata mencuci. Prefiks dapat muncul atau dapat digabungkan dengan afiks yang lain.
b.      Infiks atau sisipan adalah bentuk terikat yang dibutuhkan atau lebih tepat disisipkan di tengah kata dasar. Misalkan dalam bahasa Indonesia mengenal adanya infiks -el- dalam kata tunjuk menjadi telunjuk. Serta contoh yang lain gigi+er = gerigi, patuk+ el = pelatuk, sidik + el = selidik.
c.       Sufiks adalah afiks yang yang ada pada bagian kanan bentuk dasar atau pada akhir bentuk dasar. Contohan pada kata makan menjadi makanan. Kata makan pada awalnya merupakan kata kerja berubah menjadi kata benda setelah mendapat imbuhan –an.
d.      Konfiks adalah efiks yang berupa morfem terbagi. Afiks tersebut dibubuhkan pada awal dan akhir bentuk dasar yang merupakan satu kesatuan. Contoh ke-dan-an pada kata keterampilan.
e.       Transfiks adalah wujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar. Transfiks dapat dijumpai pada bahasa arab, yang biasanya berupa konsonan, biasanya tiga konsonan seperti k-t-b (menulis) dan d-r-s (belajar)
Contoh dalam bahasa Arab:
Ia (laki-laki) menulis
Ùƒَتَبَ
Ia (perempuan) menulis
Ùƒَتَبَتْ
Engkau (laki-laki) menulis
Ùƒَتَبْتَ
Engkau (perempuan) menulis
Ùƒَتَبْتِ
Aku menulis
Ùƒَتَبْتُ
Tempat untuk menulis (meja)
Ù…َÙƒْتَبٌ
Perustakaan
Ù…َÙƒْتَبَØ©ٌ



2.    Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dalam perubahan bunyi. Contoh reduplikasi penuh, seperti: ancaman-ancaman, buku-buku, dan sebagainya. Reduplikasi dengan modifikasi, seperti: mondar-mandir, bolak-balik, dan sebagainya. Dapat pula pengulangan sebagian saja, seperti: pepohonan.
3.    Akronimisasi
Akronimisasi adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tanpa merubah makna asalnya atau makna bentuk utuh sebelum terjadinya proses pemendekkan.
4.   Komposisi
Komposisi adalah proses penggabungan dua buah morfem dasar dengan morfem dasar, baik morfem bebas maupun morfem terikat yang kemudian menghasilkan sebuah kata yang baru yang memiliki makna baru atau makna yang berbeda.  Contoh daya tahan, daya juang, ruang baca, ruang tunggu, lamba lari, simpan pinjam.
5.    Konversi
Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar bekategori tertentu menjadi berkategori lain, tanpa merubah bentuk fisik dari dasar itu. Sebagai contoh, kata cangkul dalam kalimat pertama berkategori nomina dan kata cangkul dalam kalimat yang kedua berkategori verba.
a.    Ayah membawa cangkul ke sawah
b.    Cangkul dulu tanahnya !
D.    Macam dan Bentuk Morfologi Bahasa Indonesia
Kata dalam bahasa Indonesia berdasarkan struktur morfologisnya terbagi menjadi beberapa jenis kata, yaitu:
1.    Morfologi Kata benda (nomina substantive)
Menurut Guntur Tarigan, morfologi kata benda adalah segala pembentukan kata yang menghasilkan kata benda. Dalam pembentukan kata benda berdasarkan jenis kata dasarnya, terbagi menjadi lima macam, yaitu:
No
Jenis Kata Dasar
1
Kata benda Adalah kata benda yang tidak digabungkan dengan afiks manapun. Seperti: bumi, langit, kaki, wajah, mulut, kakak, dan sebagainya. Adapun hasil kata benda yang telah digabungkan dengan afiks, adalah Perasa  (Pe- ), Kemanusiaan (Ke- dan -an)
2
Kata kerja
Contoh:
a.    Pemetik (pe-)
b.    Penulis (Pen-)
c.    Minuman (-an)
d.   Persembunyian (Pe- dan -an)
3
Kata keadaan
Contoh:
a.    Ketua (ke-)
b.    Penenang (pen-)
c.    Kebaikan (ke- dan -an)
4
Kata bilangan
Contoh:
Persatuan  (pe- dan -an)
5
Kata ganti orang
Contoh:
Pengakuan  (pe- dan an-)

2.    Morfologi Kata kerja (verba)
Kata kerja adalah kata yang dapat dipakai sebagai perintah, baik dapat digabungkan dengan afiks maupun tidak. Seperti: petik, lempar, buang, dan lain-lain. Dalam pembentukan kata kerja berdasarkan jenis kata dasarnya, terbagi menjadi lima bentuk, yaitu:
c.    Kata benda
Yang dimaksud kata benda disini adalah kata yang dapat digabung dengan afiks kepunyaan (-ku, -mu, -nya), atau yang dapat dihubungkan secara langsung dengan kata bilangan, seperti: sendok, sekolah, dan sebagainya. Untuk membentuk kata kerja, terdapat banyak afiks yang dapat digabung dengan kata benda. Contoh: Menghantui (Meng-i ), Bersepeda (ber-), Bertemankan (ber- dan -kan)
d.   Kata keadaan
Kata keadaan adalah segala kata yang dapat dibuat dalam komparasi  (perbandingan), Seperti:
Bersih x kotor
Jauh  x  dekat
Kata kerja dapat dibentuk dari kata keadaan, dengan cara menggabungkannya dengan afiks. Contoh: Jauhi (-i), Jauhkan (-kan), Menjauhi (men- dan -i), Menjauhkan (men- dan -kan), Dijauhi (di- dan -i), Dijauhkan (di- dan -kan), Memperjauh (men- dan per-), Diperbesar (di- dan per-), Bersedih (ber-)
e.    Kata bilangan
Kata bilangan adalah segala kata yang dapat digunakan untuk menghitung sesuatu, seperti: satu, dua, tiga, sembilan, dan sebagainya. Kata kerja dapat dibentuk dari kata dasar kata bilangan dengan afiks. Contoh: Satukan (-kan), Menyatukan (men- dan -kan), Disatukan  (di- dan -kan), Tersatukan (ter-dan-kan)
f.     Kata ganti
Kata ganti orang dapat dirumuskan sebagai berikut:

Orang ke-1
Orang ke-2
Orang ke-3
TUNGGAL
Hamba, Saya, Beta, Aku, Gua
Anda, Kamu, Engkau, Lu
Beliau, Dia, Ia
JAMAK
Kita/kami
Kalian
Mereka

Untuk membentuk kata kerja dari kata ganti orang dapat  menggabungkannya dengan afiks men-, seperti mengaku.
BAB III
PENUTUP
Dari sedikit contoh pembahasan yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan terkait morfologi. Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf berarti “Bentuk” dan Logi berarti “Ilmu”. Secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Morfologi mempelajari ilmu mengenai bentuk-bertuk dan pembentukan kata. Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi itu. Sedangkan Satuan morfologi ada dua morfem dan kata.
Adapun komponen yang terlibat dalam proses morfologi adalah sebagai berikut: (1) Bentuk dasar adalah bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Contoh bentuk dasar: meja, kursi, tulis, baca (2) Alat pembentukan kata dalam proses morfologi adalah (a) afiks dalam proses afiksasi (b) pengulangan dalam proses reduplikasi (c) penggabungan dalam proses komposisi (d) penyingkatan dalam proses akronimisasi (e) pengubahan status dalam proses konversi. Proses morfologi ini dapat melalui beberapa cara, yaitu afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi.
Kata dalam bahasa Indonesia berdasarkan struktur morfologisnya terbagi menjadi empat jenis kata, yaitu morfologi kata benda (nomina substantive), morfologi kata kerja (verba), morfologi kata sifat (adjectiva), dan morfologi kata tugas (function words)









DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2008. Linguistik Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: PT Rineka Cipta
Tarigan, Henri Guntur. 2009. Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa
Verhaar, J.W.M. 2008. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
http://lisnatris321.blogspot.com/2014/05/morfologi-barab-dan-bindonesia.html Diakses pada 18 Oktober 2018, 14:25:34