Rahasia Tentang Kematian
ِكُلُّ نَفْسٍِ ذَائِقَةُ المَوْت
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).Ini kisah tentang kucing kesayangku, yang aku rawat di lantai 5 Ma'had Al-Jami'ah IAIN Pontianak. Sebenarnya pertama kali aku hanya memelihara satu ekor kucing. Akan Tetapi setelah kepulanganku dari KKL 2017 di Mempawah (Setahun Lalu) aku mendapati kucingku melahirkan anaknya. Anaknya berjumlah tiga ekor berwarna abu-abu, kuning, dan hitam. mereka semua sangat terlihat menggemaskan.
mereka pun tumbuh dengan sehat dan mereka sangat menikmati masa bermainnya bersam. Akan tetapi, takdir Allah berkata lain. Sekitar setahun yang lalu. Kucing yang berwarna kuning jatuh dari lantai atas ke lantai dasar, sehingga si kuning cedera parah. hingga menyebabkan gigi taringnya patah dan kakinya juga cidera parah hingga si kuning tidak dapat berjalan normal untuk beberapa waktu. Tapi akhirnya si kuning berangsur-angsur pulih dan dapat berjalan kembali., walaupun si kuning berjalan terseok-seok dan yang terparah si kuning tidak dapat berjalan secara normal dan tidak bisa memanjat layaknya kucing yang lain untuk selamanya.
Subhanallah. Aku patut bersyukur untuk hal tersebut.
Setelah sekitar seminggu dari hari kecelakaan si kuning. Kucing yang berwarna abu-abu jatuh sakit. Tanpa diketahui dengan jelas apa sakitnya. Si abu-abu tidak mau makan dan tidak mampu bergerak jika tidak diangkat oleh manusia. Sampai pada hari kelima si abu-abu sakit. Paginya si abu terlihat semkin parah dan aku bersama temanku membawa si abu-abu ke klinik hewan yang ada di dinas perternakan untuk diperiksa oleh dokter hewan tentunya. Setelah dibawa pulang kondisi Si abu-abu makin parah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sore hari. Bertepatan dengan malam jum'at.
Setelah si Abu-abu mati, tinggallah si kuning dan si hitam melanjutkan kehidupan mereka masing-masing. Mereka berdua tumbuh dan berkembang menjadi kucing dewasa yang sehat. Hingga pada bula Puasa 2018 yang lalu si hitam mendapati cidera di betisnya. Cideranya lumayan parah hingga membuat isi betisnya terlihat, karena khawatir jika lukanya makin parah maka aku pun membawanya ke Klinik hewan. setelah diperiksa dan diberi resep obat oleh dokternya, kami pun pulang untuk menebus resep tersebut di apotek yang terdekat. Si hitam yang kami bawa tidak terlihat merasakan sakit sama sekali tertutupi oleh tingkah lakunya yang super aktif.
Setelah sampai di Ma'had kami berusaha untuk memberi Si hitam obat akan tetapi ia sangat susah untuk ditangani sehingga membuat kami kewalahan.
Sampai akhir kami tidak tahu apakah si hitam sembuh dari lukanya, karena si hitam menghilang saat Ma'had sedang dalam kondisi yang sepi yaitu saat liburan hari Raya Iedul Fitri. Saat kembali ke Ma'had setelah liburan yang cukup panjang. Si hitam menghilang entah kemana. Apakah si hitam masih hidup ataukah sudah mati. Aku selalu berharap si Hitam masih Hidup dan bbaik-baik saja
Saat ini hanya ada si Kuning bersamaku setelah satu tahun berlalu aku bersama mereka semua. Kini Si kuning pun terlihat hamil, dan si kuning sedang menunggu kelahiran pertamanya.
Sungguh. Maut itu rahasia Allah swt. Tiada yang tahu siapa yang akan pergi dahulu, dan tiada yang tahu siapa yg akan ditinggalkan.


